Sabtu, 31 Juli 2010

Konspirasi Industri Musik dan Major Label Tanah Air

Yah, sekarang Don Left Thinker sementara lagi berhenti membahas tentang ''Konspirasi dunia'' (tunggu aja posting selanjutnya).Memangnya Konspirasi harus dikaitkan dengan Freemason,NWO,Illuminati, dan Secret Societies lain nya, saya jawab tidak. Don Left Thinker akan membahas Konspirasi dibalik ''Perusahaan Rekaman/Major Label di Tanah Air maupun Dunia'' yang menyimpan kelicikan dan ketidakadilan..memang melakukan kelicikan dan ketidakadilan sama pihak mana?Artisnya?Manajemen Artisnya?..jawaban nya adalah keduanya sama-sama dirugikan oleh Label Rekaman..mari kita telusuri mengapa kebanyakan artis-artis di Tanah Air maupun Dunia hanya bersifat ''temporary fame''..alias terkenal sementara..


sumber:http://www.musikator.com/bagaimana-jika-industri-musik-yang-salah/.http://forum.detiksurabaya.com/showthread.php?t=18594.http://www.ardyans.co.cc/pendapat-kaskusers-tentang-musik-indonesia.htm.(dan lain nya dari mbah google)


The Problem





Kita sudah ada di penghujung era musik dimana era musik mengalami komersialitas yang sangat merebak diantara masyarakat Dunia. Salah satunya kita lebih ''berkonsentrasi'' dalam mengupas gerak-gerik Industri Musik di Tanah Air. Ini Statement nya:

. Tidak akurnya dan kurangnya keikutsertaan Label Rekaman dalam negosiasi manajemen si Artis dalam pilar-pilar otonom Industri Musik dari ketiga belah terkait yaitu (Artis.Manajemen.Dan Label), satu tidak akur.. ya semuanya tidak akan berjalan secara lancar!.

. Conflict of Interest tingkat tinggi akan terjadi apabila manajernya keblinger dan bingung untuk mendahulukan kepentingan Artisnya atau Labelnya?, dan akhirnya pasti manajemen yang kurang ''balance'' dalam mementingkan keduanya akan menjadi jembatan menuju pembentukan manajemen baru yang akan direkrut oleh label, manajemen lamanya gimana? paling ngurusin kepentingan pribadi nya artisnya doang, urusan finansial tidak ikut terjun karena sudah dipegang sama manajemen baru dari label barunya...kasihan juga kan?

. Merebaknya pembajakan musik di tanah air dan menurun nya penjualan album fisikal, menyebabkan sang Label mempunyai jalan pintas mendirikan manajemen artis yang ujung-ujungnya merugikan artis nantinya yang akan dibuang jauh-jauh. Major Label bukan nya meresistensikan pembajakan, namun malah berkomplot (tuh kan ujung2nya konspirasi juga) artis secara terus-menerus agar sang Major Label menghindari kebangkrutan, salah satunya mereka deal dengan sang pembajak apabila ingin membuang artis lama dan mentransisikan artis yang baru...kesan nya ''yang lama diusahain cari jalan keluar untuk diganti dengan talenta yang baru''.

. Dengan Mechanical Royaltynya yang bersifat low/ rendah, hasil analisa data penjualan album biasanya bersifat manipulatif. Sehingga ada dealing antara Manajemen dengan pihak Label agar artisnya dilarang bergabung dengan KCI (Karya Cipta Indonesia) dari ASIRI (Asosiasi Industri Rekaman Indonesia)maka mengindikasikan nantinya artis akan lebih mudah di eksploitasi oleh sang Major Label , jadi Major Label sudah ada dealing dengan ASIRI dengan persetujuan yang lengkap dan dilindungi oleh beberapa firma. Jadi kalau di exploit ama Label berharap ngelawan? jangan harap!..bisa no comment anda apabila diteruskan masalahnya di pengadilan hehehe..



Prediction From The Experts


Seorang Pengamat Musik, Wendi Putranto memprediksikan di masa depan Industri Musik Indonesia apabila belum berubah sama sekali:

. Masa depan band/artis baru akan sepenuhnya dominan dikuasai oleh label, bukan di tangan manajemen utama nya, jadi kesan nya bukan Manajemen tapi MENEJEMEN (MEjengin, NEmenin, JEmputin, dan MENunggu si Artis)

.Pihak Label dianggap sebagai ''Investor'', namun sang Manajemen tidak punya hak untuk menginvestasikan sang artis..

.Kontrol dominasi yang kuat dari sang Major Label untuk menghilangkan sisi artistik & idealisme,estetika,dan eksentrikisme dan sang artis yang membawa banyak potensi, namun dihilangkan begitu saja. Dan artis hanya diperbolehkan masuk ke dalam arus musik dengan aliran yang masuk dalam prosedur-prosedur pasar musik yang ada..contoh pop melayu(ST12,Wali),pop cinta-cinta an(Afgan,Gruvi,Ran,Maliq n The Essentials,Andra& the Backbone..meski dicampur rock,jazz,orchestra..yang penting pop!), dan semua band yang tidak ada kaitan nya dengan pop ditendang jauh-jauh oleh Label karena tidak sesuai prosedur pasaran.

.Kecilnya kemungkinan royalty income/pemasukan dari artis karena mereka harus ''share profit'' alias bagi keuntungan dari royalty mechanical, live show, merchandise, tour, advertise, dan sebagainya.

.Tingkat eksploitasi akan dipertajam lagi oleh sang Label seperti penggelapan royalti, sales report yang culas, dengan ketidakadilan sang label untuk membagi profit ke sang Artis . Jika kita memandang Artis sebagai seniman dengan talenta yang tak ternilai maka selanjutnya artis lebih diposisikan disebut dengan ''kuli/budak musikal''. Tidak menjamin semua musisi mempunyai talenta yang tak ternilai..apalagi yang masuk ke dunia mainstream dan masuk major records?

.Lain band, lain tingkat eksploitasinya. ada yang gak terlalu parah dan ada yang sangat parah, sampai sang pengamat musik ini mendengar ada satu band nya yang dipotong komisinya sebesar 45% (gross) setelah bergabung dengan Major Label..pantes aja banyak yang langsung surut..paling lama 2 tahun juga udah beda idolanya!

.Sang Label mencari korban talenta baru karena kemungkinan besar manajemen nya minim pengetahuan finansial/bisnisnya dan belum paham konstellasi industri musik lokal, bahkan Internasional. Biasanya sang Manajemen dan Artis hanya mengimpikan iming-iming ''fame & fortune'' ketimbang skill dan usaha nya.

.Cara kerja label hanya mirip jarum suntik , sekali pakai langsung buang. Artis pendatang baru tidak akan di protect untuk eksistensinya sepanjang umur karirnya, kira-kira mereka hanya di protect dan di support hanya untuk eksis paling lama kurun waktu 3 tahun. ''Easy come, easy go!''..''Gampang Muncul, Gampang Keluar!''



It Concludes



Dengan ini kita lihat buruknya Industri Musik Indonesia , mereka hanya mementingkan duit daripada skill dan potensi diri dari sang artis, perlukah kita mengacungkan jempol bahwa Industri Musik Lokal/Internasional ini hanya menampilkan band dengan aliran yang seragam, lagu tanpa makna kecuali cinta..cinta..dan cinta yang berlebihan (remember what love truly is?),Isi video klip yang vulgar, tiadanya Integritas Stasiun Musik dan Label antara pernyataan dan perbuatan dengan adanya kampanye anti HIV dan Global Warming , acara pengisi show band-band lokal di stasiun tv swasta yang jamnya bertabrakan dengan jadwal sekolah, setelah itu tren dari sang idola yang tidak karuan? saya rasa saya hanya punya satu kalimat




YOU

TO THE MAINSTREAM MUSIC INDUSTRY

TRIMS FOR THIS PAGE (VITO LEFT THINKERS)


8 komentar:

  1. Konspirassi dalam dunia musik memang telah membunuh kreativitas dan 'soul bermusik' dari para musisi, terlebih dari para label musik Di Indonesia!!

    BalasHapus
  2. Dimana-mana sepertinya konspirasi selalu ada. Mantap!!!

    Wajar saja kalau penyanyi dan lagunya tidak beraura seperti lagu2 dulu(saya suka MLTR). Ternyata bumbu yang dipakai itu Merica Konspirasi.

    BalasHapus
  3. @richard rondonuwu: exactly it will indicates our quality and integrity of our own music industrry slowly decreased!..

    @andika hermawan: sudah terbukti hahaha

    BalasHapus
  4. setujaaaaaaaaaaaaa.....ane sbge anx band....ngrasa kreatifitas musisi indo dkekang...ad nih band bali...doski dcontrak...slah stu label...tpi brubung ni label banyk bacot....akrna...doi cabut dri tu label..doi lbih milh jdi band indie...alhasil wlw...finansial gx sbrpa...yg pnting kreatifitas brkmbang...tetp pnya nma & eksis dbali...saluttt..\m/

    BalasHapus
  5. Great Blog..!!!! Keep Blogging.... : )

    BalasHapus
  6. saya sebagai umat muslim biasa saja karena sebenarnya islam tidak mengajarkan musik.
    Rasullullah tidak mengajarkan tentang bermusik. Sebenarnya musik dan seni hanya digunakan untuk memperluas ajaran injil. barang siapa mengikuti suatu kaum maka mereka adalah kaum trsebut !!!!!!!!!!!!!!!

    BalasHapus
  7. major2 label di INDONESIA hanya Profit oriented... mematikan kreatifitas anak bangsa... jiwa seni n musik yg sesungguhnya akan mati dimakan musik2 alay yg 'gak banget'...

    salut gw sama band2 yg berani keluar dr mayor label, dan tetep idealis n mandiri utk berdiri dgn label sendiri... (contoh : netral, dan saykoji)

    BalasHapus
  8. mereka lbh seneng membuat band2 baru yg selera musiknya ancur, tp dibuat2 seolah2 beken (secara instant), daripada membesarkan band2 yg emang punya skill mantep... krn dgn begitu prinsip ekonomi bener2 dijalankan...

    "...Low Budget, High Profit..."

    BalasHapus

Gunakan Kata Bijak..Apabila Tidak Siap2 Saya Injak..